Info Sehat JHVC


PENYAKIT JANTUNG BAWAAN


Gangguan jantung bukan cuma menimpa orang dewasa meskipun didominasi oleh kelompok usia tersebut. Anak-anak pun berpotensi mengalaminya. Hanya bedanya, orang dewasa memperoleh kelainan ini sebagian besar dari proses perjalanan hidup. Sedangkan pada anak, penyakitnya muncul sejak lahir.
Dari seluruh kelainan bawaan yang paling sering terjadi, penyakit jantung bawaan termasuk di dalamnya karena mencapai 30%. Dilaporkan pula bahwa gangguan itu paling banyak menimbulkan kegawatan dan kematian pada awal kehidupan.
Di banyak negara seluruh dunia, angka kejadian penyakit jantung bawaan kurang-lebih sama dan menetap dari waktu ke waktu. Hasil studi kepustakaan menetapkan angka 8 per 1.000 kelahiran hidup dan 60% di antaranya membutuhkan pembedahan.
Informasi lainnya menyebutkan bahwa dari 100 bayi yang lahir hidup, 1 di antaranya menderita penyakit jantung bawaan. Sepertiga dari mereka memperlihatkan gejala pada minggu-minggu pertama.
Ketika dilahirkan, bayi menghadapi keadaan yang kritis sehingga mungkin sekali pada saat itu ia terserang penyakit ataupun mengalami kematian. Memang, kematian bayi di Indonesia lebih banyak diakibatkan oleh infeksi.Tetapi, penyebab yang lain juga ada, seperti kelainan bawaan (termasuk jantung).

Dapat ditanggulangi

Pada masa lalu, jumlah kasus kelainan ini di Tanah Air diduga cukup besar karena banyak anak terpaksa tidak dapat tertangani akibat berbagai keterbatasan dalam hal:

  • Fasilitas diagnostik
  • Terapi
  • >Operasi.

Padahal, bayi yang lahir hidup terus bertambah saja, baik di negara maju maupun berkembang (termasuk Indonesia). Situasi ini dipengaruhi oleh:
  • Perkembangan serta kemajuan ilmu kedokteran berikut fasilitas kesehatannya
  • Kemajuan kesehatan lingkungan
  • Peningkatan gizi
  • Usaha kesehatan yang lain.

Maka sekarang, pengidap penyakit jantung bawaan bisa disembuhkan. Kemajuan teknologi di bidang kedokteran, juga bedah jantung, memungkinkan diselamatkannya banyak penderita. Bahkan, anak penderita gangguan dari jenis tertentu bisa hidup normal sebagaimana teman sebayanya yang tanpa kelainan tersebut.
Karena itu, Anda jangan panik apabila mendengar anaknya mengalami penyakit jantung bawaan, yang secara kebetulan diketahui dari dokter saat melakukan pemeriksaan rutin. Umpamanya:

  • Terdengar bising pada jantung anak.
Atau mungkin, Anda mencurigai gejala berupa:

  • Sesak nafas
  • Keringat banyak
  • Biru pada mulut maupun kaki
  • Cepat lelah
  • Berat badan sulit naik
  • Sering terserang infeksi paru yang berulang.
Bisa juga Anda memperhatikan bayi waktu minum, yakni:

  • Seringkali berhenti sebelum kenyang
  • Terlalu lama menghabiskan susunya.

Pemeriksaan bertahap

Spesialis anak dapat diajak berkonsultasi mengenai tanda-tanda ini sebelum ia merekomendasikan rujukan kepada spesialis jantung anak. Untuk selanjutnya, dilakukan beberapa pendeteksian secara bertahap:

  • Diperiksa serta dianalisis kadar haemoglobin darahnya, sekaligus angka hematokritnya
  • Diadakan pemeriksaan rekam jantung (EKG)
  • Dipakai alat USG jantung (Echo)
  • Kateterisasi jika memang diperlukan dan terbatas untuk jenis tertentu.

Semua tahap pendeteksian tersebut untuk mencari kepastian:

  • Apakah jantung anak betul-betul mengalami gangguan atau tidak?
  • Bila ya, apa jenis kelainannya?
  • Apakah diperlukan obat atau tidak?
  • Apakah ada kemungkinan lubang di antara bilik kiri dan kanan, ataupun di antara serambi kiri dan kanan jantungnya, dapat secara otomatis menutup sendiri atau tidak?
  • Kapan sebaiknya dilaksanakan operasi sebagai tindakan intervensi?

Langkah pengobatan

Pengobatan terhadap penyakit jantung bawaan cukup beragam. Ada yang hanya membutuhkan obat-obatan untuk mengurangi keluhan atau gejala yang muncul. Dalam hal ini, pembedahan bisa ditunda sampai anak mencapai umur tertentu yang dinilai aman dengan risiko minimal.
Malahan, ada anak yang tidak membutuhkan obat-obatan dan tindakan apapun. Upaya itu cuma dapat diberlakukan terhadap anak yang tidak menunjukkan tanda-tanda. Demikian halnya pada sebagian kecil gangguan jantung, bisa terjadi penutupan lubang secara spontan sebelum anak berumur dua tahun.
Tetapi, beberapa kasus tertentu justru ada kemungkinan dapat diobati tanpa harus menjalani pembedahan. Di sini, digunakan metode kateterisasi untuk menutup kelainan anatomi yang terjadi.
Dengan menerapkan teknik tersebut, ada berapa keuntungan yang bisa dinikmati oleh pasien. Contohnya:

  • Perawatan di rumah sakit setelah dioperasi yang menjadi lebih singkat
  • Terhindar dari risiko pembedahan
  • Tidak meninggalkan bekas luka berupa jaringan parut di dada.




Kembali ke Info Sehat JHVC









JAKARTA HEART & VASCULAR CENTER
RS MITRA KELUARGA KELAPA GADING
Jl. Bukit Gading Raya kav.2, Kelapa Gading - Jakarta 14240
Telp. +62 21 4585 2700 & 4585 2800
Fax. +62 21 4585 2727


Copyright © Mitra Keluarga Group - All Rights Reserved | Powered by MIS Department Mitra Keluarga Group