Posts Tagged ‘anak’

  1. Anak saya usia 10 bulan sudah terkena lipoma, kira2 lipoma itu apa? Mengapa bisa terjadi? Ada beberapa ditempat sama, mengapa sudah dioperasi diangkat tapi muncul lagi?

Jawaban :

Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada dibawah kulit yang terdiri dari lemak. Biasanya lipoma ditemukan pada usia dewasa atau lanjut, namun juga dapat dijumpai pada bayi dan anak-anak. Karena lipoma merupakan lemak, maka dapat muncul dimanapun pada tubuh. Jenis yang paling sering adalah yang berada lebih ke permukaan kulit, biasanya di kepala, leher, bahu, badan, punggung atau lengan. Jenis yang lain adalah yang letaknya lebih dalam dari kulit seperti dalam otot. Lipoma tidak nyeri, ukurannya kecil, berkisar 1-3 cm, lunak dan dapat digerakkan. Penyebab lipoma belum sepenuhnya dimengerti, tetapi ada kecenderungan diturunkan (herediter). Meskpiun demikian, tidak selalu jika kita mempunyai orang tua atau leluhur ini, maka kita akan mempunyai lipoma juga. Ada yang menyebutkan sesudah luka kecil dapat memicu terjadinya lipoma. Namun hal ini masih kontroversi. Kegemukkan tidak menyebabkan lipoma. Beberapa orang hanya memiliki 1 lipoma, sedangkan yang lainnya memiliki beberapa buah lipoma. Pada dasarnya lipoma tidak perlu dilakukan tindakan apapun, kecuali berkembang menjadi nyeri dan mengganggu pergerakan. Biasanya operasi karena alasan kosmetik.

  1. Anak 1 tahun, batuk lendir sulit dikeluarkan, sering sesak nafas, bahaya tidak? Balsam transpulmin bb, bahaya tidak?

Jawaban :

Sebagian besar batuk berlendir disebabkan karena infeksi pada saluran pernapasan atas, termasuk influenza. Pada dasarnya influenza tidak berbahaya. Akan tetapi jika disertai tanda-tanda sesak nafas seperti adanya cuping hidung kembang kempis, tarikan pada dinding dada dan anak tampak lemah, gelisah dan memerlukan usaha berat untuk bernafas, maka bisa dipastikan bahwa si anak tidak menderita influenza biasa, tetapi sudah menderita kompilkasi atau menderita penyakit berat pada paru-paru seperti salah satunya radang paru-paru. Radang paru-paru pun memberikan gejala awal berupa batuk dengan lendir yang banyak, tetapi disertai dengan demam. Balsam transpulmin berisi ramuan herbal organik camomile dan eucalyptol, yang jika dioleskan ke kulit akan memberikan sensasi hangat, dan uapnya dapat membantu melegakan jalan nafas. Penggunaan balsam ini tidak dianjurkan penggunaannya secara rutin. Efek samping jika dipakai terlalu sering adalah iritasi ringan pada kulit berupa kemerahan pada kulit. read more

Anak merupakan sebuah anugerah terindah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa, dan sudah sepatutnya kita jaga. Pada masa pertumbuhan, berbagai macam penyakit mengintainya, salah satunya adalah kejang demam. Kejang demam merupakan bentuk kejang yang paling sering terjadi pada masa anak-anak, dan mungkin dapat dikatakan sebagai penyebab paling sering anak dibawa ke bagian gawat darurat untuk anak di selruh dunia. Tidak ada suhu yang spesifik untuk terjadinya kejang demam pada anak. Kejang Demam biasa muncul pada anak umur 3 bulan sampai 5 tahun dengan puncaknya pada usi 18 bulan.

Kejang demam pada anak, pun dasarnya adalah benigna, biasanya menimbulkan ketakutan dan kecemasan kepada keluarga khususnya orang tua. Walaupun biasanya benigna dan dapat sembuh dengan sendirinya, kejang demam masih dapat dikatakan sebagai momok, akan terjadinya gangguan intelegensia dan kecacatan.

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh, yakni suhu rectal yang lebih dari 38 derajat celcius, yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam dibagi atau dua tipe yatiu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana didefinisikan sebagai kejang tonik-klonik yang dapat berhenti sendiri. Lama kejang sekitar 15 menit, dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam, serta tidak meninggalkan abnormalitas setelah kejang. Sementara kejang demam kompleks didefinisikan, apabila dijumpai kejang 1 kali atau lebih, dengan tempo waktu diatas 15 menit, lebih dari satu kali dalam 24 jam, biasanya didapatkan kelainan neurologis sebelum terjadinya kejang, seperti Cerebral Palsy, atau keterlambatan perkembangan.

Selain itu, sekitar sepertiga anak yang mengalami kejang demam, akan mengalami kejang demam berulang. Sekitar 75 persen mengalaminya dalam 1 tahun setelah kejang pertama, dan 90 persen mengalaminya dalam 2  tahun setelah kejang demam pertama. Menurut penelitian, ada beberapa faktor prediktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang. Faktor prediktor yang pernah dilaporkan adalah, anak umur kurang dari 12 bulan atau 18 bulan, dengan suhu tubuh yang lebih rendah (mendekati 38 derajat celcius) pada saat timbulnya kejang, durasi demam sebelum timbulnya kejang yang lebih singkat, durasi kejang, serta adanya defisit neurologis dan adanya riwayat kejang demam dan atau epilepsy pada keluarga.

Patofisiologi terjadinya kejang demam masih belum jelas. Secara umum dipercaya bahwa kejang demam merupakan keadaan yang berkaitan dengan tingkatan usia sebagai respon terhadap ketidakmatangan otak anak. Keadaan kejang demam membutuhkan penatalaksanaan medik yang cepat dan pemberian oksigen dilakukan sampai kejang berhenti sendri atau dihentikan dengan obat. Diazepam merupakan obat yang paling sering digunakan dalam penatalaksanaan kejang baik anak-anak maupun dewasa. Gologan diazepam yang diberikan secara intraverna atau prektal biasanya efektif dalam menghentikan kejang. Prinsip terpenting dalam penanganan kejang adalah mengatasi kejang secapatnya untuk mencegah kerusakan sel-sel otak lebih lanjut. Satu hal lagi yang terpenting jangan memasukan cairan atapun sesuatu saat anak dalam kondisi kejang karena akan berisiko terjadinya aspirasi /tersedak yang dapat membahayakan saluran pernapasan.

Disamping terapi medikasi berupa obat-obatan, pemberian konseling yang baik kepada orang tua anak dan keluarganya adalah yang terpenting. Kejang demam dapat mengganggu keluarga secara emosi, oleh karena itu penatalaksnaan jangka panjang kejang demam juga harus berfokus pada usaha mengurangi kecemasan orang tua dan keluarga. Memberikan edukasi kepada orang tua dan keluarga secara garis besar mengenai kejang demam dan mengenai prognosisnya adalah sangat penting.

Hampir semua studi populasi melaporkan bahwa anak-anak dengan kejang demam memiliki prognosis yang baik, serta intelektial anak tidak terjanggu. Kematian serta gejala sisa neurologi sangat jarang terjadi. biasanya jika hal tersebut terjadi disebabkan oleh berbgai faktor sebelum kejang demam terjadi