Posts Tagged ‘bekasi timur’

oleh : dr. Yusalena Sophia I, Sp.PD

    Penyakit Middle Eastern Respiratory Syndrome disingkat MERS di tahun 2014 ini sedang menjadi trending topic terutama disebabkan karena didapatkan beberapa kasus akibat penyakit tersebut (sekitar 30% ) yang mengakibatkan kematian pada penderitanya, dan juga penyakit ini sampai saat ini masih belum ditemukan obat dan vaksinnya MERS merupakan penyakit yang disebabkan oleh suatu virus CoV singkatan dari Corona Virus. Sehingga penyakit ini disebut sebagai MERS-CoV, yang dijabarkan sebagai Middle Eastern Respiratory Syndrome Corona Virus dengan penyebab utamanya adalah virus yang termasuk dalam kelompok Corona Virus, yaitu virus dengan ciri permukaan tubuhnya diselimuti struktur mirip dengan mahkota.

Virus MERS-CoV

    Virus MERS-CoV dikenali untuk pertama kalinya pada tahun 2012 di Arab Saudi oleh seorang virologist berkebangsaan Mesir yaitu Dr. Ali Mohamed Zaki yang mengidentifikasi virus tersebut dari hasil isolasi corona virus yang berasal dari jaringan paru pasien. Saat itu disebut sebagai Novel Corona Virus dan disingkat nCoV. Dan akhirnya disepakati dinamakan MERS-CoV pada bulan Mei 2013 oleh kelompok studi corona virus dari komite internasional untuk taksonomi virus.
Sumber penyakit Virus Mers ini belum diketahui asal muasalnya, namun diperkirakan berasal dari unta tetapi setelah diteliti ternyata sebagian korban tidak ada kontak dengan unta. Saat awal teridentifikasi, asal virus ini diperkirakan berasal dari kelelawar yang banyak terdapat di kebun pohon kurma pasien. Saat ini isolasi virus yang dilaporkan masih berasal dari unta dan dilaporkan dari Mesir, Qatar, dan Saudi Arabia. Dan belum didapatkan hasil screening dari jenis binatang yang lain. Data WHO (update Mei 2014), penyakit ini terjadi di Jordan, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia, The United Arab Emirates, Yaman, Perancis, Jerman, Italia, Yunani, Tunisia, Mesir, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat. Sedangkan di Indonesia sampai saai ini belum didapatkan kasus yang terkonfirmasi sebagai MERS-CoV.
Mekanisme penyebaran virus ini belum sepenuhnya diketahui. Penularan dari manusia ke manusia kemungkinan dapat terjadi hanya pada kontak yang erat dengan pasien, yaitu pada orang-orang yang merawat pasien (petugas kesehatan atau keluarga) atau satu tempat tinggal dengan pasien dan belum ada kejadian penularan di tempat umum.

Masuknya MERS-CoV pada tubuh manusia

    Gejala penyakit MERS adalah demam, disertai batuk, sesak napas, dan juga bisa mengakibatkan gangguan saluran cerna termasuk diare. Perburukan kasus terjadi pada pasien-pasien dengan sistem imun yang rendah, orang tua dan pasien-pasien dengan penyakit kronis. Untuk kriteria penyakit, CDC USA dan WHO memberikan panduan sebagai berikut:
Pasien yang dilakukan investigasi adalah pasien dengan karakteristik sebagai berikut:

  • Demam (≥ 38 C) disertai pneumonia atau sindroma distress pernapasan akut (berdasarkan klinis dan radiologis) disertai
  • Riwayat melakukan perjalanan ke Negara-negara di semenanjung arab atau sekitarnya dalam 14 hari sebelum dimulainya gejala, atau kontak erat dengan orang yang baru saja melakukan perjalanan ke semenanjung arab atau sekitarnya dalam 14 hari terakhir yang sedang mengalamai demam disertai gangguan pernapasan akut (tidak harus pneumonia), atau merupakan anggota dari rombongan pasien yang mengalami gangguan pernapasan akut (misalnya demam disertai pneumonia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dengan penyebab yang belum diketahui dimana MERS CoV sedang dievaluasi.

Sedangkan kriteria kasus yang dianggap mungkin (probable), yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang tidak mendukung kearah infeksi MERS-CoV tetapi memiliki kontak erat dengan pasien yang telah dikonfirmasi menderita MERS-CoV.
Kasus yang dianggap terkonfirmasi/tegak diagnosisnya adalah pasien dengan pemeriksaan laboratorium yang mendukung kearah infeksi MERS-CoV (bahan pemeriksaan didapatkan dari spesimen saluran pernapasan, darah, dan tinja). Saat ini pemeriksaan laboratorium di Indonesia hanya dapat dilakukan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan RI di JL Percetakan Negara Jakarta (pengambilan sampel oleh Dinas Kesehatan setempat).
Untuk pencegahan penyakit ini,karena gejalanya serupa dengan infeksi saluran pernapasan lainnya maka setiap orang dengan gejala sesua kriteria terinvestigasi perlu diinvestigasi. Penapisan di airport adalah dengan detektor demam. Dan karena belum ada vaksin yang tersedia maka proteksi personal seperti cuci tangan sesering mungkin, makan makanan yang matang, menjaga hygiene personal dan memakai masker adalah sangat dianjurkan. Berikut adalah saran-saran pencegahan bagi jamaah Haji/Umroh:

  • Sering cuci tangan dengan sabun setiap kembali ke pondokan dan sebelum makan, dan jikatidak ada sabun dapat digunakan handsrub berbasis alkohol, yang bisa dibilas dengan air untuk menjaga kehalalannya
  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci
  • Menutup hidung dan mulut sekaligus bila batuk dan bersin dengan tissue dan membuangnya ke tempat sampah, serta memakai masker dan memeriksakan diri ke dokter bila sakit seperti tersebut.
  • Hindari kontak erat, seperti mencium atau makan/minum dengan alat yang sama dengan jamaah yang sakit tersebut
  • Memakai sarung tangan dan masker bila merawat pasien seperti tersebut di atas, dan membuang langsung sarung tangan dan masker ketika meninggalkan pasien dan ganti baru setiap mendatangi kembali pasien.
  • Dr . Samuel Tandionugroho, Sp.Rad, MM

* dengan Perjanjian
** Jadwal dapat berubah sewaktu-waktu, untuk penjelasan hubungi Pendaftaran Rawat Jalan
** Untuk memudahkan pelayanan sebaiknya dengan perjanjian / Appointment yang dapat dilayani 24 jam

kembali ke jadwal praktek dokter