SEPUTAR MEDICAL CHECK UP

SEPUTAR MEDICAL CHECK UP

Kata medical check up sudah sering kita dengar baik dari kerabat atau teman kita. Sehingga kata ini bukan kata yang asing buat kita. Bahkan ada yang rela sampai ke luar negri atau membayar mahal untuk melakukannya.

APA MEDICAL CHECK UP ITU?

Medical check up sama dengan pemeriksaan fisik. Tetapi masyarakat lebih familier dengan istilah check up, bahkan orang yang mau kontrol penyakit ke dokter saja mengatakan mau check up. Jadi masyarakat masih belum bisa membedakan istilah medical check up yang sebenarnya dengan kontrol ke dokter karena suatu penyakit.

Sebenarnya medical check up sendiri atau sering disingkat dengan MCU merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seorang dokter dalam melakukan pemeriksaan pada tubuh pasien untuk mencari adanya kejanggalan atau gejala dari suatu penyakit. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan secara rutin satu tahun sekali, untuk melihat adanya kejanggalan pada tubuh orang yang tidak memiliki keluhan yang berarti. Tidak ada keluhan bukan berarti tidak ada penyakit dalam tubuh seseorang karena ada juga beberapa penyakit yang tidak mempunyai gejala. Jadi sifatnya seperti air tenang yang menghanyutkan. Tidak terlihat gejala apapun dari luar tetapi tahu-tahu penyakitnya sudah menimbulkan segala macam komplikasi. Seperti hepatitis B yang tidak mempunyai gejala sebelum menimbulkan sirosis hepatis atau kanker hati atau kanker leher rahim yang tidak ada gejala pada tahap awal. Demikian juga orang yang mempunyai kadar gula tinggi pun sering tidak menyadari kalau kadar gulanya tinggi di dalam darah.

Nah disinilah peranan medical check up untuk menemukannya! Pemeriksaan medical check up dilakukan secara lengkap dari kepala sampai dengan kaki, mulai dari anamnesa sampai pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan ini bertujuan :

  1. Mendeteksi secara dini adanya suatu penyakit dalam tubuh seseorang. Jadi jangan tunggu sudah ada penyakit atau sudah lanjut usia baru melakukan medical check up seperti pengertian beberapa orang karena akan terlambat untuk mengetahui adanya penyakit di dalam tubuh.
  2. Mengatasi secepat mungkin gangguan kesehatan yang telah ditemukan.
  3. Mencegah penyakit yang telah dideteksi secara dini tidak belanjut.

Intinya, medical check up adalah pencegahan yang dilakukan secara dini untuk menemukan adanya suatu penyakit untuk menghindari komplikasi atau kerugian yang lebih besar yang disebabkan oleh gangguan penyakit.

BAGAIMANA PERSYARATAN SEBELUM MELAKUKAN MEDICAL CHECK UP?

Persyaratan yang harus dilakukan oleh seseorang yang akan melakukan medical check up adalah  :

    1. Berpuasa selama 10-12 jam. Selama berpuasa hanya boleh minum air putih, tidak boleh minum susu, makan permen atau merokok.
    2. Tidur yang cukup selama 6-8 jam.
    3. Untuk wanita yang akan melakukan medical check up ada persyaratan tambahan yaitu tidak sedang dalam keadaan haid (minimal 7 hari sesudah haid bersih) karena akan mengganggu hasil pemeriksaan  urine dan bila mau melakukan  pemeriksaan pap smear tidak boleh berhubungan suami istri dan tidak boleh  membilas daerah kewanitaan dengan sabun pembersih selama 2×24 jam.

BAGAIMANA PROSEDUR DALAM MELAKUKAN MEDICAL CHECK UP?

Prosedur yang dilakukan oleh seorang dokter dalam melakukan pemeriksaan medical check up mulai dengan tanya jawab atau lazim dikenal dengan istilah anamnesa, pemeriksaan tubuh oleh dokter. Ada juga pemeriksaa dilakukan oleh dokter gigi, dokter spesialis mata,THT, dan saraf. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan tambahan berupa laboratorium (baik pemeriksaan darah, urine dan feces), rontgen dada, EKG/Treatmill test, USG abdomen, dan bagi wanita pemeriksaan ditambah dengan mamografi, USG payudara dan pap smear. Dalam MCU pemeriksaan yang dilakukan menyeluruh dan pemeriksaan tambahan dilakukan tanpa melihat kondisi pasien.

ANAMNESA

Di sini pentingnya kepercayaan pasien kepada dokter

Pada bagian ini dokter akan menanyakan :

  1. Keluhan saat ini yang mengganggu
  2. Riwayat penyakit sekarang. Di bagian ini dokter akan menanyakan mulai kapan gejala penyakit diderita, bagaimana intensitasnya, kapan timbul gejala itu, adakah penjalaran, adakah gejala tambahan, adakah susah tidur, bagaimana dengan buang air kecil dan buang air besarnya, riwayat alergi yang diderita (alergi obat atau makanan).
  3. Riwayat penyakit dahulu. Di sini dokter menanyakan :
    • riwayat penyakit yang pernah diderita waktu masih anak-anak seperti asma, bronkitis, TBC paru, sakit kuning, dsb.
    • penyakit lain yang diderita seperti hipertensi, kencing manis, cholesterol atau asam urat tinggi, dsb.
    • riwayat kecelakaan yang pernah dialami, apakah menimbulkan patah tulang, pingsan atau muntah.
    • riwayat operasi yang pernah dialami seperti amandel, usus buntu, hernia, dsb.
    • pengobatan  yang telah dijalani.
  4. Riwayat penyakit keluarga yang dialami oleh orang tuanya, kakek dan neneknya, paman atau bibinya seperti hipertensi, kencing manis, jantung, ginjal, kanker, asma, liver atau penyakit kejiwaan.
  5. Riwayat pekerjaan apakah bekerja di kantor atau di lapangan. Karena ada juga penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan, misalnya karena lingkungan bising, berdebu dsb.
  6. Riwayat merokok, berapa banyak dan sejak kapan. Minum alkohol atau tidak dan olah raga dalam seminggu berapa kali.
  7. Adakah perubahan berat badan dalam 1 tahun.

Dalam hal ini pasien harus menjawab jujur karena dokter akan memeriksa lebih seksama pada bagian tubuh yang pernah mengalami kerusakan akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk mengetahui apakah kerusakan itu masih ada atau sudah sembuh. Misalnya orang yang pernah mengalami stroke, dokter akan memeriksa gejala sisa yang masih ada, kekuatan motorik alat gerak, reflek patologis, kemampuan mengingat, berhitung, dsb sehingga bisa disimpulkan apakah kondisi orang tersebut sudah membaik atau belum, latihan-latihan apa yang diperlukan untuk mengurangi gejala sisa.Riwayat penyakit juga berguna untuk mengarahkan dokter akan suatu gejala dari penyakit tertentu. Misalnya pasien yang menderita batuk hilang timbul. Dari sini dokter akan menemukan lebih lanjut untuk mencari tahu mengapa terjadi batuk, apakah karena infeksi, alergi atau adanya tumor di paru. Setelah itu dokter akan menindaklanjuti dengan memeriksa bagian tubuh yang diduga berkaitan dengan batuk tersebut, mulai dari tenggorokan sampai paru.

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan tekanan darah salah satu pemeriksaan tanda vital

Setelah anamnesa, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dari kepala sampai kaki. Dicari adakah kelainan pada bagian tubuh pasien. Yang pertama diperiksa adalah tanda vital pasien, mulai dari pemeriksaan tekanan darah, nadi, frekuensi napas dan suhu. Dari keempat komponen ini dapat diketahui apakah ada tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, denyut jantung yang cepat atau lambat, frekuensi napas yang cepat, gangguan paru, adanya infeksi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada pasien, mulai dari bentuk tubuh, keadaan kulit, adanya benjolan pada leher (baik adanya pembesaran kelenjar getah bening atau tiroid/gondok), bagaimana reflek cahaya pada mata, apakah pupil di tengah atau tidak, adakah kelainan pada sclera/conjunctiva mata untuk melihat adanya penebalan selaput mata atau anemia, pemeriksaan liang telinga dan gendang telinga dilanjutkan dengan pemeriksaan dada, perut, pinggang, adakah pembengkakan atau varises di kaki sampai reflek saraf pasien tersebut.

Pemeriksaan dilakukan melalui :

  1. Melihat keadaan pasien (Inspeksi). Bukan tanpa alasan dokter meminta pasien untuk membuka pakaiannya (tentunya untuk pasien wanita diperiksa oleh dokter wanita). Jika ada pakaian yang menutupi tubuh tidak akan terlihat jika ada organ tubuh pada dada atau perut yang tidak normal. Dari inspeksi dapat diketahui pasien menderita suatu penyakit tertentu, seperti penyakit kuning, penyakit  paru kronik, bahkan penyakit jantung.
  2. Meraba bagian tubuh pasien (Palpasi). Tentu raba yang dimaksud tidak pada semua bagian tubuh pasien dan tetap membuat pasien merasa nyaman. Dengan perabaan dapat diketahui apakah ada pembesaran hati atau limpa, adanya nyeri pada bagian perut atau tumor pada jaringan payudara wanita. Tetapi untuk wanita dapat menolak jika memang tidak ingin diperiksa payudaranya hanya saja menandatangani surat penolakan
  3. Mengetuk tubuh pasien (Perkusi). Berdasarkan suatu prinsip adanya perbedaan bunyi pada organ-organ tubuh. Bunyi paru berbeda dengan bunyi jantung ketika diketuk. Begitu juga dengan bunyi usus dan bunyi hati. Karena itu, jika bunyi yang dihasilkan berbeda, bisa saja ada sesuatu yang tidak normal pada organ tersebut. Selain itu, pengetukan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya pembesaran jantung atau adanya cairan di paru atau perut (yang merupakan hal yang tidak normal).Dalam praktek sehari-hari, tiga pemeriksaan di atas tidak terlalu familier untuk dilakukan karena memakan banyak waktu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah menggunakan stetoskop atau disebut juga dengan auskultasi.Stetoskop, alat untuk melakukan auskultasi
  4. Mendengar suara di dalam tubuh pasien (Auskultasi) dengan menggunakan stetoskop. Tujuannya untuk mendengar suara nafas pada paru, denyut jantung, ataupun bunyi usus yang sedang berkontraksi. Perbedaan bunyi pada organ tersebut pun dapat menandakan adanya gangguan pada organ, seperti adanya bising jantung, adanya suara nafas yang berlebih atau suara ngik-ngik pada paru, bahkan bunyi usus yang menghilang dapat menandakan adanya sumbatan pada usus.Terkadang keempat jenis pemeriksaan di atas dapat dilakukan bersama bila pada salah satu jenis pemeriksaan di atas ditemukan adanya kelainan supaya hasilnya lebih akurat.
  5. Menggunakan alat bantu. Pada waktu dilakukan inspeksi ataupun perkusi dengan bantuan alat. Untuk pemeriksaan saraf dilakukan dengan menggunakan palu reflek. Dapat diketahui jika ada gerakan yang tidak normal setelah dirangsang dengan palu reflek yang menandakan adanya gangguan pada otak. Selain itu pemeriksaan saraf juga menggunakan kapas, air dingin, jarum untuk mendeteksi adanya gangguan pada saraf otak.Pada pemeriksaan telinga, digunakan alat otoskop untuk melihat keadaan liang telinga, keutuhan selaput gendang telinga, adanya iritasi pada telinga, adanya kotoran dalam telinga. Untuk memeriksa tenggorokan dengan menggunakan lampu kepala dan tongue spatel. Untuk pemeriksaan hidung dengan speculum hidung. Pemeriksaan mata pun mempunyai alat bantu sendiri. Ada alat berupa slit lamp dan funduskopi yang dapat digunakan untuk melihat keadaan retina mata.

Pemeriksaan mata menggunakan slit lamp

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Setelah pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap, rontgen thorax, rekam jantung (EKG)/Treatmill test. Kadang juga dilakukan pemeriksaan USG. Untuk pemeriksaan USG terbagi menjadi USG abdomen untuk melihat keadaan organ di dalam perut dan USG payudara atau mamografi untuk melihat jaringan payudara wanita.

 

Pemeriksaan darah dan urine lengkap memiliki banyak kegunaan, mulai mengetahui adanya infeksi (bakteri, virus, jamur), adanya dugaan kencing manis, gagal ginjal sampai pada kelainan darah.

Rontgen thorax dapat digunakan untuk mengetahui gangguan pada paru secara spesifik dan pembengkakan jantung.

EKG dapat digunakan untuk mengetahui adanya kemungkinan ke arah gagal jantung, pembesaran jantung sampai penyakit jantung coroner.

MCU yang diselenggarakan di rumah sakit atau laboratorium terkadang menawarkan paket  yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Dari paket standar sampai paket yang paling lengkap. Untuk anamnesa dan pemeriksaan fisik pada dasarnya sama, yang berbeda pada pemeriksaan laboratorium. Untuk dugaan kencing manis, selain pemeriksaan dasar (darah lengkap, urine lengkap, rontgen thorax dan EKG), tentunya diperlukan pemeriksaan gula darah sewaktu, puasa, 2 jam setelah puasa, bahkan HBA1C. Pemeriksaan HBA1C menggambarkan keadaan gula darah untuk rentang waktu yang lebih panjang yaitu 1-3 bulan, juga untuk memberikan gambaran keberhasilan terapi glukosa yang sedang dilakukan dengan memperhitungkan dosis obat yang lebih tepat. Pemeriksaan ini tidak dipengaruhi oleh asupan makanan sehingga pasien tidak perlu melakukan puasa sebelumnya. Kadar normal yang harus dicapai adalah <6,5%. Terkadang gula darah puasa pasien kencing manis bisa normal, tetapi gejala kencing di malam hari, kesemutan, dll tidak berkurang malah semakin parah. Nah, karena itu kita perlu mengetahui apakah pasien meminum obat secara teratur. HBA1C lah jawabannya. Sedangkan untuk pasien yang hasil pemeriksaan gula darah puasa 100-125 mg/dl atau gula darah sewaktu 140-199 mg/dl maka dilanjutkan dengan pemeriksaan glukosa toleransi tes yang akan diambil darah puasa dan 2 jam setelah pemberian glukosa 75 mg. Hasil yang didapatkan pasien tersebut bisa normal, prediabetes (toleransi glukosa terganggu) dan sudah menderita diabetes mellitus.

Untuk pemeriksaan keadaan hati dilakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT, SGPT, HBsAg, anti HBs dan USG abdomen. Untuk pemeriksaan asam urat, maka diperiksa kadar asam urat dalam darah. Dan untuk pemeriksaan fungsi ginjal diperiksa kadar ureum dan kreatinin dalam darah. Sedangkan pemeriksaan profil lemak meliputi pemeriksaan cholesterol total, LDL cholesterol, HDL cholesterol dan trigliserida.

Setelah selesai, semua hasil pemeriksaan dirangkum dalam kesimpulan dan dibuat buku laporan hasil medical check up yang akan diserahkan kepada pasien dan salinan hasil MCU disimpan di bagian rekam medis.

APA GUNANYA MEDICAL CHECK UP?

Dengan melakukan medical check up secara rutin minimal 1 tahun sekali, kesehatan kita termonitor dengan baik. Jika sudah mengetahui tubuh kita sehat, kita tidak perlu kuatir dengan berbagai penyakit sehingga kesibukan atau acara penting yang sudah kita persiapkan jauh-jauh hari tidak akan terganggu oleh penyakit.

Jika hasil medical check up ditemukan adanya gangguan, tentunya dapat segera dilakukan pengobatan untuk mencegah penyakit bertambah parah.

Dengan demikian, medical check up termasuk pencegahan sekunder, yaitu deteksi dini.

SIAPA SAJA YANG BOLEH MELAKUKAN MEDICAL CHECK UP?

Medical check up bisa diikuti oleh siapa saja yaitu :

1. masyarakat umum

2. calon nasabah dari sebuah perusahaan asuransi

3. calon karyawan suatu perusahaan

4. pemeriksaan berkala karyawan perusahaan

MEDICAL CHECK UP SEBAGAI INVESTASI BUKAN COST.

Medical check up dapat dikatakan sebagai investasi, karena di Indonesia pengobatan sangat mahal. Karena medical check up sebagai pencegahan sekunder yaitu deteksi dini, jika sudah terlihat ada yang tidak normal dapat diobati sesegera  mungkin untuk menghindari komplikasi lebih lanjut yang membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Sudahkan anda melakukan medical check up tahun ini?

Leave a Reply


five − = 4