PERCUTANEUS NEPHROLITHOTRIPSY (PCNL)

pcnl

PCNL yaitu menghancurkan batu ginjal dengan bantuan alat endoskopi yang dimasukkan ke dalam ginjal melalui sayatan kecil pada kulit di daerah pinggang ± 2 mm sampai tampak batu kemudian dipecah dengan lithotripsy. Tindakan ini memerlukan anestesi,rawat inap, dan untuk batu yang besar.

Prosedur dapat dibagi menjadi dua bagian:

A) Membuka jalan saluran ke kandung kemih.

Prosedur ini biasanya dengan anestesi epidural, spinal, lokal atau umum. Dilakukan dengan kontrol fluoroscopic, dengan memasukkan jarum infus pada tempat yang ingin dibuat saluran sampai ginjal,kemudian kawat dimasukkan ke dalam jarum sebagai panduan jalan hingga mencapai bagian bawah saluran ginjal, selanjutnya saluran diperlebar dengan nephroscope secara fluoroscopic sehingga terlihat bagian dalam kandung kemih.

B) Pengambilan batu.

Small stones can be removed intact with forceps or baskBatu-batu kecil dapat diambil utuh dengan forsep. Terkadang diperlukan More commonly, some form of power lithotripsy is required to break the stone into manageable fragments. The options available now are, ultrasonic lithotripsy, electrohydraulic lithotripsy, and pneumatic lithotripsy.Lithotripsy untuk memecahkan batu menjadi pecahan yang bisa diambil. Stone removal continues until the patient is free of stone or until it is necessary to stop the procedure. Pengambilan batu dilakukan hingga tidak ada batu atau sampai perlu untuk menghentikan prosedur misalnya karena perdarahan progresif yang membuat lapang pandang tidak jelas dan perdarahan yang sangat banyak. Jika masih terdapat batu saat tindakan dihentikan, nephroscope dapat dimasukkan kembali pada saluran yang sama setelah 48 jam kemudian. At the end of the procedure, a nephrostomy tube is placed through the tract into the collecting system, large enough to maintain an adequate tract to permit blood and clots to drain readilyPada akhir prosedur, sebuah tabung nephrostomy dipasang melalui saluran ke dalam kandung kemih, untuk mempertahankan agar tidak terjadi sumbatan gumpalan darah. After 48 hours, a nephrostogram is obtained. If there are no leaks, the nephrostomy tube is clamped.Setelah 48 jam tindakan dilakukan, dilakukan nephrostogram. Jika tidak ada kebocoran, maka tabung nephrostomy dijepit, kemudian tabung diangkat dan pasien dipulangkan.

Indikasi:

1.Stone size (staghorn calculBatu ukuran besar (staghorn kalkuli).

PCNL efektif karena kemampuannya untuk memecah ukuran batu yang besar.

2.Obstructive UropathyObstruktif Uropathy.

Uropathy obstruktif dapat diperbaiki setelah pengangkatan batu dengan endourologi prosedur. Ureteropelvic junction (UPJ) obstruction may coexist with calculi in the collecting system. Such stones are best removed by percutaneous means because the obstruction can be treated by endopyelotomy, usually at the same time.

3.Anatomic AbnormalitieKelainan anatomi.

In very obese patients, or in patients with skeletal abnormalities like severe kyphoscoliosis, shock wave lithotripsy is impossible because the stone cannot be placed in the focal point of the machiPada pasien sangat gemuk, atau pada pasien dengan kelainan tulang seperti kyphoscoliosis parah, gelombang kejut Lithotripsy tidak mungkin karena batu tidak dapat ditempatkan pada titik fokus dari mesin.

4.Stone LocationLokasi batu.

Stones located in the lower pole calyces are less likely to pass after shock wave breakup, particularly if the collecting system is grossly dilated or otherwise abnormal. Batu yang terletak di bawah calyces kecil kemungkinannya untuk dipecahkan oleh lithotripsi, atau sebaliknya batu sangat besar.

5.Stone CompositionKomposisi batu.

Struvite stones should be treated with PCNL in order to be sure that all the fragments are removed. Batu Struvite, The commonest hard renal stones are composed of calcium oxalate monohydrate. As these stones become larger, the more likely it is that multiple shock wave lithotripsy treatments or other instrumentation may be necessbatu ginjal terdiri dari kalsium oxalate monohydrate.

6.Status Pekerjaan.

Beberapa pekerjaan membutuhkan keadaan yang jelas bahwa tidak ada lagi batu yang tersisa.

7.Other Modality FailureKegagalan modalitas lain.

Dengan gAs mentioned, shock wave lithotripsy may fail or ureteroscopy may fail. Equally, stones may remain after an open surgical procedureGGG elombang kejut dan URS atau setelah prosedur pembedahan terbuka masih ditemukan batu. PCNL may retrieve these otherwise lost procedures.

Kontra Indikasi :

The only absolute contraindications for PCNL are uncorrected bleeding disorder and pregnancy (due to the risk of radiation). Satu-satunya kontraindikasi mutlak untuk dikoreksi PCNL adalah gangguan pendarahan dan kehamilan (karena resiko radiasi). The other relative contra indications which may be considered are, medical problems making the patient unsuitable for anaesthesia, and, stone location making access risky, (eg, pelvic kidney), By and large, the procedure is possible in majority of the patients, including those considered unsuitable for the other modalities like open surgery and shock wave lithotripsy. Yang lain kontra indikasi relatif yang dapat dipertimbangkan adalah, masalah medis membuat pasien tidak cocok untuk anestesi, dan lokasi batu membuat akses berisiko, (misalnya pelvis ginjal), atau karena keadaan pasien tidak dapat dilakukan prosedur pembedahan dan lithotripsy.

Komplikasi:

  1. Trauma saat penusukkan jarum dapat terjadi pada organ-organ yang berdekatan, seperti limpa, Pleura, peritoneum, usus besar atau duodenum, robekan parenchyma ginjal, dan pembuluh darah yang besar dapat terluka.
  2. Saat pengangkatan batu mungkin terjadi pendarahan, bengkak, perforasi, pengangkatan batu tidak lengkap dan sepsis.
  3. Obstruksi UPJ (utero pelvic junction) Obstruksi.

Oleh : Dr. Entjeng Hidayat, SpU

Leave a Reply


six − = 1